Sudah kesekian kalinya aku melihat warung itu. Yang dipajang hanyalah makanan dan minuman ringan, dan rokok. Tapi aku menduga kalau warung itu juga digunakan sebagai tempat tinggal. Tampak dibelakang warung, disusun barang-barang keperluan rumah tangga dan jemuran. Dugaanku diperkuat karena aku juga melihat perempuan bersama anaknya yang sesekali didatangi oleh seorang laki-laki yang kuyakin adalah ayah dari anak tersebut.
Terlintas dibenakku, bagaimanakah perkembangan anak itu dengan lingkungan dan kondisi yang dihadapinya. Rasanya kenyamanan dan kebahagiaannya telah direnggut dengan keberadaan orang tuanya.
Namun, malam ini aku menyaksikan kejadian yang membuat aku terenyuh. Anak itu sangat menikmati bermain dengan bonekanya dalam warung yang sempit itu. Sesekali terlihat dia berbicara dengan bonekanya. Tiba-tiba ayahnya menghampiri dan duduk tepat di pintu keluar warung. Beberapa saat kemudian anak itu meminta izin kepada ayahnya untuk keluar dari warung. Aku tidak tau persis apa yang terjadi, tapi yang kutangkap ayahnya agak sedikit marah. Namun, anak itu terdiam sejenak, lalu mencium kedua pipi ayahnya. Nyesss.. rasanya dadaku bergetar..
"Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah" (HR. Bukhari-Muslim)
Yah.. aku sangat meyakini itu, karena fitrahnya seorang anak membutuhkan kasih sayang dan mengekspresikan kasih sayang yang dimilikinya. Orang tualah yang memiliki peran penting utk memenuhi kasih sayang seorang anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar