Barangkali bagi sebahagian orang yang mendapatkan hari libur natal dan tahun baru akan merasakan nikmat ketika bisa berlibur bersama keluarga. Pergi ke sebuah tempat wisata atau berkunjung ke rumah keluarga lainnya.
Namun, kenikmatan yang kurasa berbeda, pasti berbeda karena kantor tempat aku bekerja tidak memberikan libur panjang. Nikmat yang kurasa adalah bisa berangkat ke kantor dengan angkutan umum dan dapat tempat duduk, tidak perlu menyambung busway karena jalanan sepi, sehingga tidak ada kemacetan yang biasanya kuhindari dengan menaiki busway. Lebih capat sampai, dan tidak perlu berjalan jauh, karena bisa berhenti lebih dekat dengan simpang kantorku, biasanya dari shelter busway harus berjalan lebih jauh.
Yah, itulah nikmat libur yang kudapat, libur dari kemacetan dan waktu yang panjang.
ruh telah bersaksi... lisan telah berucap... akankah hati dan pikiran mengingkarinya...
Translate
Kamis, 29 Desember 2011
Sabtu, 24 Desember 2011
Cium Sayang
Sudah kesekian kalinya aku melihat warung itu. Yang dipajang hanyalah makanan dan minuman ringan, dan rokok. Tapi aku menduga kalau warung itu juga digunakan sebagai tempat tinggal. Tampak dibelakang warung, disusun barang-barang keperluan rumah tangga dan jemuran. Dugaanku diperkuat karena aku juga melihat perempuan bersama anaknya yang sesekali didatangi oleh seorang laki-laki yang kuyakin adalah ayah dari anak tersebut.
Terlintas dibenakku, bagaimanakah perkembangan anak itu dengan lingkungan dan kondisi yang dihadapinya. Rasanya kenyamanan dan kebahagiaannya telah direnggut dengan keberadaan orang tuanya.
Namun, malam ini aku menyaksikan kejadian yang membuat aku terenyuh. Anak itu sangat menikmati bermain dengan bonekanya dalam warung yang sempit itu. Sesekali terlihat dia berbicara dengan bonekanya. Tiba-tiba ayahnya menghampiri dan duduk tepat di pintu keluar warung. Beberapa saat kemudian anak itu meminta izin kepada ayahnya untuk keluar dari warung. Aku tidak tau persis apa yang terjadi, tapi yang kutangkap ayahnya agak sedikit marah. Namun, anak itu terdiam sejenak, lalu mencium kedua pipi ayahnya. Nyesss.. rasanya dadaku bergetar..
"Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah" (HR. Bukhari-Muslim)
Yah.. aku sangat meyakini itu, karena fitrahnya seorang anak membutuhkan kasih sayang dan mengekspresikan kasih sayang yang dimilikinya. Orang tualah yang memiliki peran penting utk memenuhi kasih sayang seorang anak.
Terlintas dibenakku, bagaimanakah perkembangan anak itu dengan lingkungan dan kondisi yang dihadapinya. Rasanya kenyamanan dan kebahagiaannya telah direnggut dengan keberadaan orang tuanya.
Namun, malam ini aku menyaksikan kejadian yang membuat aku terenyuh. Anak itu sangat menikmati bermain dengan bonekanya dalam warung yang sempit itu. Sesekali terlihat dia berbicara dengan bonekanya. Tiba-tiba ayahnya menghampiri dan duduk tepat di pintu keluar warung. Beberapa saat kemudian anak itu meminta izin kepada ayahnya untuk keluar dari warung. Aku tidak tau persis apa yang terjadi, tapi yang kutangkap ayahnya agak sedikit marah. Namun, anak itu terdiam sejenak, lalu mencium kedua pipi ayahnya. Nyesss.. rasanya dadaku bergetar..
"Tiada seorang anak pun yang lahir, kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah" (HR. Bukhari-Muslim)
Yah.. aku sangat meyakini itu, karena fitrahnya seorang anak membutuhkan kasih sayang dan mengekspresikan kasih sayang yang dimilikinya. Orang tualah yang memiliki peran penting utk memenuhi kasih sayang seorang anak.
Kamis, 22 Desember 2011
Mengenang Pemilik Tempat Kesaksian
Yang kuingat tempat itu sempit dan gelap, sangat sering aku merasa kesulitan utk menegakkan kepala, meluruskan kaki dan tanganku. Terkadang tanpa sengaja, karena sesekali aku ingin meluruskan kaki, akhirnya aku menendang dinding lembut yang menutupi tempat itu. Ketika aku mendapatkan mainan tali ditempat itu, dengan senangnya aku bermain, berputar, sampai aku tertidur kembali. Meskipun aku berada di tempat yang sempit dan gelap, aku tidak pernah kekurangan makanan, berlebih malah. Aku memang belum bisa mengunyah makanan, tapi aku menerimanya dari tali yang sering kujadikan mainan. berhari-hari, berminggu, dan berbulan aku melewati rutinitas di tempat itu. Di tempat itu jugalah aku menerima ruh dan bersaksi atas keberadaan-Nya.
Untuk itu semua, aku ingin mengucapkan "terima kasih Mama...". Dengan ikhlas Mama memberikan tempat itu untukku, membawaku kemana-mana, mengalirkan makanan bergizi, meski aku sering menyakiti Mama, tapi Mama malah menanti kehadiranku.. "Mohon maaf Ma", atas salah yang telah ku perbuat dan sampai saat ini aku belum bisa memenuhi cita-cita tertinggi Mama.
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiro"
Lindungilah Mamaku ya Allah..
Untuk itu semua, aku ingin mengucapkan "terima kasih Mama...". Dengan ikhlas Mama memberikan tempat itu untukku, membawaku kemana-mana, mengalirkan makanan bergizi, meski aku sering menyakiti Mama, tapi Mama malah menanti kehadiranku.. "Mohon maaf Ma", atas salah yang telah ku perbuat dan sampai saat ini aku belum bisa memenuhi cita-cita tertinggi Mama.
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayani soghiro"
Lindungilah Mamaku ya Allah..
Senin, 25 Juli 2011
Kesaksian Yang Menghapus Senyum
Setelah membutuhkan waktu cukup lama untuk menyusun kata-kata yang menggambarkan kelapangan hati dan kejernihan pikiranku dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga, akhirnya dengan lancar aku telah menyampaikan apa yang terpendam selama ini kepadanya.
Berat memang... tapi aku harus mempersiapkan diri dari sejak dini. Mungkin ini tidak dapat dilakukan oleh banyak perempuan, itu juga yang mungkin membuat aku ingin berbeda dari perempuan lainnya. :)
Sejak awal, harapanku hanya ingin menyaksikan kehadiran Tuhan dalam dirinya, hingga pengabdianku sebagai hamba dan pendamping hidup menjadi sempurna. Namun, kesaksiannya malam tadi telah menghapus senyum dan memupuskan harapan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... lau haula walaa quwwata illa billah...
Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj'alli min ladunka shultonan nashiiro..
Berat memang... tapi aku harus mempersiapkan diri dari sejak dini. Mungkin ini tidak dapat dilakukan oleh banyak perempuan, itu juga yang mungkin membuat aku ingin berbeda dari perempuan lainnya. :)
Sejak awal, harapanku hanya ingin menyaksikan kehadiran Tuhan dalam dirinya, hingga pengabdianku sebagai hamba dan pendamping hidup menjadi sempurna. Namun, kesaksiannya malam tadi telah menghapus senyum dan memupuskan harapan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... lau haula walaa quwwata illa billah...
Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj'alli min ladunka shultonan nashiiro..
Kamis, 28 April 2011
Kesaksian dalam Harapan
"Ya udah, mana yang terbaik menurut kamu", bagiku itu adalah kalimat pasrah karena tidak ingin memaksakan kehendakku. Meski setelah terdengar nada putus dari ponselku, kekecewaan menggelayuti. Aku mengerti untuk melakukan hal yang baik memang penuh dengan godaan dan tantangan, itulah yang terjadi padamu saat ini, rasa malas untuk menuju kampus dan membayangkan suasana yang tidak menarik di dalam kelas. Tapi kita terlanjur bermimpi, kamulah yang akan menjadi profesor di keluarga kita kelak.
Aku menyempatkan bermohon di akhir pertemuanku dengan-Nya, permohonan khusus agar kamu merubah pikiranmu untuk membatalkan rencanamu yang tidak aku harapkan.
Waktu berlalu.. sekian jam aku tidak menerima telpon dan sms darimu. Yang ada dibenakku, kamu sedang tertidur pulas, kelelahan sepulang dari kantor. Tidak seperti biasanya, aku pulang agak larut malam tadi, dan berharap kedatanganku tidak mengganggu tidurmu.
Ketika aku masuk keruang tengah, ternyata kamu masih mengenakan pakaian kantor dan menonton tv. Aku heran ditambah lagi kamu belum makan. Tapi dengan bangganya kamu bercerita "saya baru aja pulang dari kampus". Kaget, bangga, haru.... lagi aku bersaksi akan keberadaan-Nya. Hampir saja aku menitikkan air mata, Dia mendengarkan permohonanku.
Terima kasih ya Rob...
Aku menyempatkan bermohon di akhir pertemuanku dengan-Nya, permohonan khusus agar kamu merubah pikiranmu untuk membatalkan rencanamu yang tidak aku harapkan.
Waktu berlalu.. sekian jam aku tidak menerima telpon dan sms darimu. Yang ada dibenakku, kamu sedang tertidur pulas, kelelahan sepulang dari kantor. Tidak seperti biasanya, aku pulang agak larut malam tadi, dan berharap kedatanganku tidak mengganggu tidurmu.
Ketika aku masuk keruang tengah, ternyata kamu masih mengenakan pakaian kantor dan menonton tv. Aku heran ditambah lagi kamu belum makan. Tapi dengan bangganya kamu bercerita "saya baru aja pulang dari kampus". Kaget, bangga, haru.... lagi aku bersaksi akan keberadaan-Nya. Hampir saja aku menitikkan air mata, Dia mendengarkan permohonanku.
Terima kasih ya Rob...
Rabu, 27 April 2011
Senyum Indah
Senyum adalah Ibadah
Senyum menenangkan hati
Senyum menyehatkan jiwa
Senyum mempererat silaturrahmi
ada yang mau menambahkan?
Senyum menenangkan hati
Senyum menyehatkan jiwa
Senyum mempererat silaturrahmi
ada yang mau menambahkan?
Langganan:
Postingan (Atom)