"Ya udah, mana yang terbaik menurut kamu", bagiku itu adalah kalimat pasrah karena tidak ingin memaksakan kehendakku. Meski setelah terdengar nada putus dari ponselku, kekecewaan menggelayuti. Aku mengerti untuk melakukan hal yang baik memang penuh dengan godaan dan tantangan, itulah yang terjadi padamu saat ini, rasa malas untuk menuju kampus dan membayangkan suasana yang tidak menarik di dalam kelas. Tapi kita terlanjur bermimpi, kamulah yang akan menjadi profesor di keluarga kita kelak.
Aku menyempatkan bermohon di akhir pertemuanku dengan-Nya, permohonan khusus agar kamu merubah pikiranmu untuk membatalkan rencanamu yang tidak aku harapkan.
Waktu berlalu.. sekian jam aku tidak menerima telpon dan sms darimu. Yang ada dibenakku, kamu sedang tertidur pulas, kelelahan sepulang dari kantor. Tidak seperti biasanya, aku pulang agak larut malam tadi, dan berharap kedatanganku tidak mengganggu tidurmu.
Ketika aku masuk keruang tengah, ternyata kamu masih mengenakan pakaian kantor dan menonton tv. Aku heran ditambah lagi kamu belum makan. Tapi dengan bangganya kamu bercerita "saya baru aja pulang dari kampus". Kaget, bangga, haru.... lagi aku bersaksi akan keberadaan-Nya. Hampir saja aku menitikkan air mata, Dia mendengarkan permohonanku.
Terima kasih ya Rob...
jadi keki..
BalasHapus